Peranan Iman Dalam Menghadapi Arus Globalisasi

Peranan Iman Dalam Menghadapi Arus Globalisasi

Oleh :

Bhian Rangga J. R     K. 5410012

Prodi Geografi FKIP UNS

Dari Abdullah bin Umar, ketika diminta untuk menjelaskan iman, Rasulullah bersabda, “iman itu engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-rasulNya dan hari akhir serta beriman kepada ketentuan (takdir) yang baik maupun yang buruk.” ( H.R. Muslim )

A. Pendahuluan

Dewasa ini dunia sedang mengalami proses yang sering disebut orang dengan istilah globalisasi, proses mendunia akibat kemajuan-kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, terutama di bidang telekomunikasidan informasi (information technology).  Globalisasi mengakibatkan orang tidak lagi memandang dirinya sebagai hanya warga suatu negara, melainkan juga sebagai warga masyarakat dunia. Gejala yang acapkali disebut arusglobalisa si, diringi dengan program-program mendunia dengan menampilkan beberapa ciri kebebasan, seperti kebebasan berdagang, kebebasan bergaul, dan lain sebagainya. Sebenarnyagloba lisasi berarti pula suatu tindakan atau proses menjadikan sesuatu mendunia (universal), baik dalam lingkup maupun aplikasinya

Pada era globalisasi telah terjadi perubahan perubahan cepat. Dunia menjadi transparan, terasa sempit, hubungan menjadi sangat mudah dan dekat, jarak waktu seakan tidak terasa dan seakan pula tanpa batas.  Hubungan komunikasi, informasi, transportasi menjadikan satu sama lain menjadi dekat, sebagai akibat dari revolusi industri, hasil dari pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Perkembangan internet, informasi elektronik dan digital, ditemui dalam kenyataan sering terlepas dari sistim nilai dan budaya. Perkembangan ini sangat cepat terkesan oleh generasi muda yang cenderung cepat dipengaruhi oleh elemen-elemen baru yang merangsang. Suka atau tidak bila tidak disikapi dengan kearifan dan kesadaran pembentengan umat, pasti akan menampilkan benturan-benturan psikologis dan sosiologis. Sehubungan dengan itu, perlu dicari strategi yang efektif dalam memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai cara dalam menghadapi Tantangan Globalisasi Dengan Sebuah Nilai Penanaman Iman.

Berkenaan dengan permasalahan di atas, dalam makalah ini lebih lanjut akan diuraikan (1) Pengertian Iman, ( 2 ) Perubahan dan Dampak Arus Globalisasi ( 3 ) Membentuk Generasi Masa Depan Dengan Benteng Iman

B. Pengertian Iman

Iman dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, pengertian iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Adapun rukun iman dalam agama Islam antara lain :

1. Iman Kepada Allah

Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang memberi Rizki, Yang Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi. Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan, dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.

2. Iman Kepada Para Malaikat-Nya

Allah memiliki malaikat-malaikat yang diciptakan dari cahaya. Iman kepada malaikat tersebut termasuk rukun iman yang kedua. Iman kepada malaikat berarti meyakini dan membenarkan dengan sepenuh hati bahwa Allah Swt telah menciptakan malaikat yang diutus untuk melaksanakan tugas-tugas tertentu dari Allah. Maka, sebagai seorang yang beriman harus mengimani secara terperinci.

Adapun 10 malaikat yang wajib kita imani antara lain : Malaikat Jibril tugasnya menyampaikan wahyu Allah, Malaikat Izroil tugasnya mencabut nyawa, Malaikat Izrofil, tugasnya meniup sangkakala, Malaikat Malik, tugasnya menjaga neraka. Malaikat Ridwan, tugasnya menjaga surga, Malaikat Mikail, tugasnya membagikan rezeki, Malaikat Munkar dan Nakir, tugasnya menanyai di alam kubur, Malaikat Rakib, tugasnya mencatat perbuatan baik, Malaikat Atid, tugasnya mencatat perbutan buruk.

3. Iman Kepada Kitab-Kitab

Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah Swt  memiliki kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan  Rasul-Nya, yang benar-benar merupakan kalam (firman, ucapan)-Nya. Maka orang yang beriman wajib baginya mengimaninya kitab – kitab Allah Swt yaitu Taurat, Injil, Zabur, dan Al-Qur’an. Selain wajib mengimani bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Swt, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya sebagaimana Dia telah mengucapkan
seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Qur’an merupakan tolok ukur kebenaran kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Qur’anlah yang dijaga oleh Allah Swt dari pergantian dan perubahan. Al-Qur’an adalah Kalam Allah Swt yang diturunkan, dan bukan makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.

4. Iman Kepada Rasul-rasul

Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah Swt telah mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya. Adapun jumlah rasul dan nabi yang wajib diimani yaitu 25 orang diantara mereka yang disebutkan oleh Allah Swt dalam Al-Qur’an. Wajib pula beriman bahwa Muhammad SAW adalah yang paling mulia dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta tidak ada nabi setelahnya.

5.Iman Kepada Hari Kiamat

Kita mengimani kebenaran hari akhirat, yaitu hari kiamat yang tiada kehidupan lain sesudah hari tersebut. Untuk itu kita mengimani kebangkitan, yaitu dihidupannya semua mahkluk yang sesudah mati

6. Iman Kepada Takdir

Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah Swt. Allah Swt telah mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah Swt telah menulisnya pula di dalam Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya.

C. Perubahan dan Dampak Arus Globalisasi

Globalisasi membawa banyak tantangan baik itu menyangkut bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Globalisasi ini membawa dampak positif dan negatif bagi kepentingan bangsa dan ummat kita.

Dampak positif, misalnya, makin mudahnya kita memperoleh informasi dari luar sehingga dapat membantu kita menemukan alternatif-alternatif baru dalam usaha memecahkan masalah yang kita hadapi.  Misalnya, melalui internet kini kita dapat mencari informasi dari seluruh dunia tanpa harus mengeluarkan banyak dana seperti dulu.  Demikian pula, dalam hal tenaga kerja, dana, maupun barang.  Di bidang ekonomi, perdagangan bebas antar negara berarti makin terbukanya pasar dunia bagi produk-produk kita, baik yang berupa barang atau jasa (tenaga kerja).

Dampak negatifnya adalah masuknya informasi-informasi yang tidak kita perlukan atau bahkan merusak tatanan nilai yang selama ini kita anut.  Misalnya, budaya perselingkuhan yang dibawa oleh film-film Italy melalui TV, gambar-gambar atau video porno yang masuk lewat jaringan internet, majalah, atau CD ROM, masuknya faham-faham politik yang berbeda dari faham politik yang kita anut, dsb.  Di bidang ekonomi, perdagangan bebas juga berarti terbukanya pasar dalam negeri kita bagi barang dan jasa dari negara lain.

Dalam kaitannya dengan ummat  IslamIndonesia, dampak negatif yang paling nyata adalah perbenturan nilai-nilai asing, yang masuk lewat berbagai cara, dengan nilai-nilai agama yang dianut oleh sebagian besar bangsa kita.  Mengingat agama Islam adalah agama yang berdasarkan hukum (syari’ah), maka perbenturan nilai itu akan amat terasa di bidang syari’ah ini.  Globalisasi informasi telah membuat ummat kita mengetahui praktek hukum (terutama hukum keluarga) di negeri lain, terutama di negeri maju, yang sebagian sama dan sebagian lagi berbeda dari hukum Islam.  Keberhasilan negara maju yang sekuler dalam bidang ekonomi telah membuat segala yang berasal dari negara tersebut tampak baik dan hal ini dapat menimbulkan keraguan atas praktek yang selama ini kita anut.  Contoh hukum Islam yang berbeda dari hukum sekuler di negeri maju antara lain: hukum waris, kedudukan wanita dan pria dalam perkawinan, kedudukan anak pungut/anak angkat dalam keluarga, hak asasi anak, hak asasi manusia, hukum rajam, hukum potong tangan, definisi zina, perkawinan campur, dlsb.  Kemajuan teknologi di bidang rekayasa genetik (cloning), misalnya, juga telah menimbulkan persoalan hukum keluarga (waris dan perwalian).

Menghindari globalisasi sebagai proses alami ataupun menghilangkan sama sekali dampak negatif globalisasi itu barangkali tidak mungkin.  Mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, kita harus menghadapi globalisasi ini dan menerima segala dampaknya, negatif maupun positif.  Oleh karena itu, tantangan yang kita hadapi sebagai kelompok elit umat Islam adalah kita dapat memanfaatkan semaksimal mungkin dampak positif globalisasi itu dan meminimalkan dampak negatifnya.

D. Membentuk Generasi Masa Depan Dengan Benteng Iman

Saran normatif yang selalu kita dengar adalah  dengan meningkatkan iman dan taqwa kita kepadaAllah Swt.  Logikanya, dengan iman yang teguh, maka segala macam godaan untuk menyimpang dari hukum Allah akan dapat ditepis.  Saran ini memang mudah diucapkan tetapi tidak mudah untuk dilaksanakan, mengingat kuatnya godaan dan gempuran globalisasi ini, terutama oleh ummat yang awam.  Apalagi kalau diingat bahwa, agar berhasil secara nasional, peningkatan keimanan dan ketaqwaan ini bukan hanya individual, melainkan juga kolektif.  Secara individual, kita mungkin bisa menyuruh diri kita sendiri, kalau kita mau, untuk melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah.  Namun, untuk bisa meningkat secara kolektif, maka diperlukan usaha-usaha tambahan untuk mempengaruhi orang lain agar mau melakukan hal-hal yang dapat meningkatkan iman dan taqwa mereka.  Kita perlu ‘reach-out’.   Dalam kalangan muslim, ini disebut dakwah. Dakwah dalam keluarga maupun dalam masyarakat yang menyangkut kehidupan sehari – hari.

Baik pada era globalisasi maupun bukan, sebaiknya peran iman digunakan sebagai:

  1. Iman sebagai pertahanan & adaptasi arus budaya global yang dianggap kurang sesuai dengan budaya lokal & ajaran islam.
  2. Iman sebagai alat untuk Memilih & Menggunakan tenologi bagi kepentingan kebaikan publik – sekarang & kedepan, sesuai ajaran islam.
  3. Iman sebagai filter & pegangan dalam bersosialisasi, sesuai ajaran islam.
  4. Iman sebagai alat untuk memilih & menyaring sistem & implementasi perkonomian yang akan dijalani bagi kehidupan pribadi & lingkungan, sesuai ajaran islam.

     

E. Kesimpulan / Penutup

Globalisasi sudah menjadi realitas dalam kehidupan semua bangsa. Tak ada tempat untuk melarikan diri dari gelombang globalisasi. Bagi umat Islam, globalisasi merupakan bentuk tantangan yang harus dibentengi dengan penanaman iman seseorang. Jika seseorang memiliki iman yang tinggi maka globalisasi yang bersifat negatif akan segera terbendungi. Namun, bagaimanapun globalisasi itu memang fakta dalam kehidupan global.

Globalisasi memiliki dua sisi positif dan negatif. Yang dituntut dari kita yaitu kearifan dalam menyikapinya. Ini menuntut kita untuk sanggup memberikan contoh peradaban yang komprehensif, mengerahkan  segenap usaha yang sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan untuk  merekonstruksi diri kita sekali lagi agar tidak terjebak dalam kekacauan sikap dan kepicikan pandangan. Mereka harus memberi sebagaimana mereka telah mengambil. Dan semua itu sangat mungkin. Berbagai peristiwa sejarah telah menunjukkan bahwa penduduk dunia menjadi saksi bagi kita ketika mengatakan sesuatu yang bermanfaat.

Bila kita beriman bahwa dunia ini ada yang punya yaitu Sang Pemilik tersebut Allah Yang Maha Bijaksana. Ada hari akhir untuk mengevaluasi segala tingkah laku kita. Setiap pikiran, ucapan dan perbuatan kita telah disiapkan pahala atau siksa. Maka hidup dalam kondisi seperti ini menuntut perhitungan lain. Kita mestinya akan menghitung dan mengawasi perbuatan kita sendiri. Hawa nafsu yang senantiasa bergejolak akan lebih baik dikendalikan. Perbuatan-perbuatan yang tidak diinginkan oleh Sang Pemilik dunia ini sebaiknya juga tidak kita lakukan. Karena kita tahu, seluruh perbuatan baik atau buruk, akan diperiksa oleh-Nya. Allah senantiasa bersama kita.

Segala puji hanya bagi Allah Swt berharap semoga Allah Swt memberikan kekuatan kepada kita dalam mengemban agama-Nya, dalam membangun peradaban dan kebudayaan. Semoga Dia senantiasa memberikan manfaat yang sebanyak-banyaknya kepada kita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. “ Peran Iman Kaum Muslim di Era Globalisasi”.

http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20080417012027AA9mCE0 , diunduh 31 Desember 2010,

Anonim. 2009. “ Globalisasi Dalam Timbangan Islam “.

http://www.scribd.com/doc/35159854/Globalisasi-Dalam-Timbangan-Islam , diunduh 1 Januari 2011

Ermaya,D. 2002 Globalisasi dalam Timbangan Islam. Solo : Era Intermedia

Faizmanshur.2003. “ Paradigma Islam Menghadapi Globalisasi”.

http://islamagamaku.wordpress.com/2009/07/25/pengertian-iman/, diunduh 31 Desember 2010

Syirazi, N.M. 1997. Mendalam Dasar – Dasar Akidah Islam. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.

Undzurilaina. 2007.”Peranan Iman”

http://undzurilaina.blogspot.com/2007/08/peranan-iman.html, diunduh   1 Januari 2011

Wassil. Jan A. 2001. Memahami Isi Kandungan Alqur’an. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia ( UI Press ).

Whandi. 2010. “Tantangan Globalisasi Terhadap Ummat”

http://whandi.net/tantangan-globalisasi-terhadap-ummat.html, diunduh  1  Januari 2011.

Iklan

5 thoughts on “Peranan Iman Dalam Menghadapi Arus Globalisasi

  1. Ping-balik: MAKALAH ISLAM dan PERKEMBANGAN IPTEK | Arya D Ningrat

Komentar ditutup.