SISTEM PENGELOLAAN SISTEM PEMBELAJARAN IPS DAN GEOGRAFI

SISTEM PENGELOLAAN

SISTEM PEMBELAJARAN IPS DAN GEOGRAFI

 

Bhian Rangga JR,  Bayu Taufiq, Diah Retno, Seftian Eva, Yayuk P

Program Studi Pendidikan Geografi – FKIP UNS

A.      PENDAHULUAN

       Pada dasarnya kegiatan guru didalam kelas meliputi dua hal pokok, yaitu mengajar dan mengelola kelas. Kegiatan mengajar dimaksudkan secara langsung menggiatkan siswa mencapai tujuan-tujuan seperti menyusun rencana pembelajaran, menyajikan bahan pelajaran kepada peserta didik, mengajukan pertanyaan kepada peserta didik, menilai kemajuan peserta didik adalah contoh-contoh kegiatan mengajar. Kegiatan mengelola kelas bermaksud menciptakan dan mempertahankan suasana kelas agar kegiatan mengajar itu dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
            Pembelajaran  dapat  berlangsung  lancar  dan  kondusif  serta  mencapai efektivitas  dan  efisiensinya,  manakala  guru  memiliki  dan  mengaplikasikan kompetensinya sebagai guru atau tenaga pendidik. Kompetensi sebagai tenaga pendidik atau guru meliputi kompetensi paedagogik, kompetensi pribadi, kompetensi sosial, dan kompetensi  profesional.  Masing – masing kompetensi tersebut dilaksanakan secara seimbang. Berdasarkan  Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru menyebutkan bahwa kompetensi guru  bidang IPS Geografi meliputi : (1) menguasai hakikat struktur keilmuan,  ruang lingkup, dan objek geografi, (2) membedakan pendekatan-pendekatan geografi, (3) menguasai materi geografi secara luas dan mendalam ,              (4) menunjukkan manfaat mata pelajaran geografi.
            Kompetensi  sebagaimana  telah disebutkan  di  atas  akan  memberikan  arah bagi  pelaksanaan  tugas  guru  sebagai seorang pendidik dalam menjalankan tugas profesinya  untuk  mendidik,  mengajar, melatih  dan  membina peserta didik yang memiliki dengan karakteristik yang beragam.
            Dengan menguasai keempat kompetensi tersebut, mendorong guru untuk membuat rencana, melaksanakan, dan mengevaluasi suatu proses pembelajaran yang merupakan inti dari tugas guru. Semua komponen pendidikan dan pembelajaran terutama kurikulum akan sukses apabila guru mampu mengelolanya dengan efektif.
            Geografi ialah ilmu dengan identitas keruangan atau spasial. Geografi menelaah obyek sosial maupun natural secara keruangan atau spasial. Pembelajaran geografi di sekolah menengah (dengan nama pelajaran geografi) maupun pendidikan dasar (dengan nama IPS) ujung-ujungnya diharapkan memberikan bekal spatial ability atau spatial inteligence pada peserta didik.  (Hadi, Partoso : 2009 ). Dengan demikian, guru IPS Geografi harus mampu melakukan pengelolaan pembelajaran secara optimal sesuai dengan prosedur dan tujuan yang diharapkan.
        Dalam pengelolaan sistem pembelajaran, guru hendaknya melakukan perencanaan yang matang untuk mempersiapkan serangkaian keputusan dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran yang diarahkan kepada tercapainya tujuan yang diharapkan. Pembelajaran IPS dan Geografi merupakan suatu sistem. Hal ini berarti pembelajaran IPS Geografi mengandung sejumlah komponen meliputi pendidik, peserta didik, tujuan, bahan dan metode ajarm kegiatan belajar, serta evaluasi. Sistem tersebut hendaknya saling berinteraksi dan  merupakan satu kesatuan. Pengelolaan pembelajaran  yang belum begitu optimal, terjadi ketidakselarasan antara komponen input, proses dan output pembelajaran menyebabkan suatu permasalahan tersendiri, baik bagi guru maupun siswa. Permasalah tersebut muncul ketika tujuan ( output ) pembelajaran Geografi yang diharapkan belum begitu optimal.
       Berangkat dari uraian tersebut, perlu adanya kajian lebih lanjut berkenaan dengan sistem pengelolaan sistem pembelajaran IPS dan Geografi. Sehingga diharapkan dengan adanya sistem pengelolaan yang tepat pada pembelajaran Geografi akan mendorong tercapainya tujuan yang diharapkan sesuai dengan esensi ilmu Geografi itu sendiri. Guru hendaknya menyelaraskan antara komponen sistem pembelajaran baik dari segi input, proses pembelajaran, serta output yang diharapkan.
B.       PEMBAHASAN
              Sekolah sebagai organisasi pendidikan formal berfungsi sebagai wadah untuk membentuk manusia yang bermutu melalui serangkaian proses yang telah diatur berdasarkan delapan standar palaksanaan pendidikan. “Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia. (Undang-Undang No 20 Tahun 2003, Bab 1,pasal 1).
              Dengan berstandar pada Standar Nasional Pendidikan, maka pelaksanaan pendidikan di sekolah menempatkan guru sebagai ujung tombak, karena guru merupakan kunci dalam sistem pendidikan. Oleh karena itu setiap guru harus memiliki kompetensi yang memadai.
              Menurut Mulyasa (2006:26) kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,ketrampilan,nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak. Sedangkan menurut Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dikuasai, dan diaktualisasikan oleh Guru dalam melaksanakan tugas keprofesionalan. Lebih lanjut Aqib dan Elham (2007:48) dalam (Nurhayati:2012) mengatakan “seorang guru professional harus menyandang empat kompetensi yaitu kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi professional.”
              Kompetensi seperti yang telah disebutkan diatas salah satunya berkaitan dengan sistem pengelolaan pembelajaran. Sistem pengelolaan pembalajaran ini merupakan salah satu bentuk kompetensi yang harus dimiliki  guru berkenaan dengan kompetensi pedagogik. Pada kompetensi pedagogik ini, kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik merupakan faktor penunjang keberhasilan pendidikan. Untuk itu, sebagai calon guru Geografi kita harus mampu memahami bagaimana cara pengelolaan pembelajaran yang baik agar kompetensi pedagogik dapat dipenuhi. Berikut ini uraian singkat mengenai gambaran umum sistem pengelolaan sistem pembelajaran IPS dan Geografi yang dapat menunjang pengetahuan berkaitan dengan kemampuan tau kompetensi pedagogik sebagai seorang guru.
1. Pengelolaan dan Pembelajaran sebagai suatu Sistem
a. Pengertian Sistem
     Istilah sistem merupakan istilah dari bahasa Yunani yang artinya adalah himpunan bagian atau unsur yang saling berhubungan secara teratur untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan menurut Havery, sistem adalah prosedur logis dan rasional untuk merancang suatu rangkaian komponen yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan maksud untuk membentuk suatu kesatuan dalam usaha mencapai suatu tujuan yang telah ditentukan.
     Berdasarkan pemaparan pengertian sistem di atas, bahwa sistem merupakan elemen yang saling berkaitan dan saling mempengaruhi dalam melakukan kegiatan bersama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Ada beberapa elemen yang membentuk sebuah sistem, Berikut penjelasan mengenai elemen-elemen yang membentuk sebuah sistem, sebagai berikut.
1). Tujuan
          Setiap sistem memiliki tujuan (Goal), entah hanya satu atau mungkin banyak. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tentu saja, tujuan antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
2). Masukan
          Masukan (input) sistem adalah segala sesuatu yang masuk ke dalam sistem dan selanjutnya menjadi bahan yang diproses. Masukan dapat berupa hal-hal yang berwujud (tampak secara fisik) maupun yang tidak tampak. Contoh masukan yang berwujud adalah bahan mentah, sedangkan contoh yang tidak berwujud adalah informasi (misalnya permintaan jasa pelanggan).
3). Proses
          Proses merupakan bagian yang melakukan perubahan atau transformasi dari masukan menjadi keluaran yang berguna dan lebih bernilai, misalnya berupa informasi dan produk, tetapi juga bisa berupa hal-hal yang tidak berguna, misalnya saja sisa pembuangan atau limbah. Pada pabrik kimia, proses dapat berupa bahan mentah. Pada rumah sakit, proses dapat berupa aktivitas pembedahan pasien.
4). Keluaran
          Keluaran (output) merupakan hasil dari pemrosesan. Pada sistem informasi, keluaran bisa berupa suatu informasi, saran, cetakan laporan, dan sebagainya.
5). Lingkungan
          Lingkungan adalah segala sesuatu yang berada diluar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Lingkungan yang merugikan tentu saja harus ditahan dan dikendalikan supaya tidak mengganggu kelangsungan operasi sistem, sedangkan yang menguntungkan tetap harus terus dijaga, karena akan memacu terhadap kelangsungan hidup sistem.
b. Pengertian Pembelajaran dan Pengelolaan Pembelajaran
     Pembelajaran dalah perpaduan dari dua aktivitas, yaitu aktivitas mengajar dan aktivitas belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan seorang guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi harmonis antara pengajar itu sendiri dengan si belajar. (Rivai : 2012). Menurut Gagne dan Briggs, Instructions atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa yang berisi serangkaian peristiwa yang disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Sedangkan menurut Psikologi Humanistik, Pembelajaran adalah usaha guru untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangan.
      Sedangkan Pengelolaan Pembelajaran terkait dengan upaya guru untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif. Semua komponen pendidikan dan pembelajaran terutama kurikulum akan sukses, apabila guru mampu mengelolanya dengan efektif. Pengelolaan pembelajaran terkait dengan upaya guru untuk menciptakan kondisi yang efektif sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan mengembangkan bahan ajar dan meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami materi pelajaran yang harus mereka capai.
     Dari definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa pembelajaran dan pengeloaan  pembelajaran merupakan suatu sistem karena kedua hal tersebut merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan berbagai komponen. Itulah sebabnya mengapa setiap guru perlu memahami pentingnya sistem pembelajan dan pengelolaan pembelajan. Melalui pemahaman sistem dan pengelolaan pembelajaran, proses kegiatan pembelajaran dan pengelolaan pembelajaran yang harus dilakukan adalah memnfaatkan setiap komponen dalam proses-proses kegiatan untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai dan mengetahui bagaimana keberhasilan itu dapat dicapai.
c. Gambaran Umum Pembelajaran dan Pengelolaan Pembelajaran Sebagai Suatu Sistem
     Pembelajaran sebagai suatu sistem komponen-komponennya terdiri dari: (1) Siswa, (2) Guru, (3) Tujuan, (4) Materi, (5) Metode, (6) Sarana/Alat, (7) Evaluasi, dan (8) Lingkungan/konteks. Masing-masing komponen itu sebagai bagian yang berdiri sendiri, namun dalam berproses di kesatuan sistem, mereka saling bergantung dan bersama-sama untuk mencapai tujuan. Kedelapan komponen tersebut rupanya tidak ada satupun komponen yang dapat dipisahkan satu sama lain karena dapat mengakibatkan tersendatnya proses belajar-mengajar. Misalnya pengajaran tidak dapat dilakukan di ruang yang tidak jelas, tanpa siswa, tanpa tujuan, tanpa bahan ajar. Oleh sebab itulah diperlukan juga adanya suatu sistem pengelolaan pembelajaran agar komponen-komponen pembelajaran seperti yang telah disebutkan diatas dapat diintegrasikan untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Sistem pengeloaan pembelajaran utamanya dilakukan oleh seorang guru untuk memenuhi kompetensi Pedagogiknya. Guru sebagai pengelola pembelajaran guru harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar seperti yang diungkapkan oleh Alvin C. Eurich (dalam Wina Sanjaya,2007) sebagai berikut :
1)   Segala sesuatu yang dipelajari oleh siswa, maka siswa harus mempelajarinya sendiri.
2)   Setiap siswa yang belajar memiliki kecepatan masing-masing.
3)   Seorang siswa akan belajar lebih banyak apabila setiap selesai melaksanakan tahapan kegiatan diberikan reinforcement.
4)   Penguasaan secara penuh dari setiap langkah memungkinkan belajar secara keseluruhan lebih berarti.
5)   Apabila siswa diberi tanggung jawab, maka ia akan lebih termotivasi untuk belajar.
Sebagai pengelola pembelajaran guru mempunyai tiga peran inti yaitu sebagai perencana, pelaksana dan melaksanakan evaluasi terhadap hasil dan proses pembelajaran yang dilaksanakan. Sebagai perencana guru melakukan kegiatan menetapkan pekerjaan pembelajaran yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Oleh karena itu tugas pertama guru sebagai perencana adalah megembangan tujuan-tujuan pembelajaran yang umum menjadi tujuan-tujuan yang spesifik dan operasional. Selanjutnya dalam perencanaan guru menetapkan langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dalam suatu kegiatan, perencanaan menempati posisi yang sangat penting, karena di dalam perencanaanlah tergambar hal-hal yang akan dilaksanakan dalam rangka pencapaian tujuan. Sebagai suatu kegiatan yang sangat penting maka menurut Wina Sanjaya bahwa sebuah  perencanaan pembelajaran minimal harus mempunyai empat unsur yaitu:
1). Adanya tujuan yang harus dicapai
2). Adanya strategi untuk mencapai tujuan.
3). Sumber daya yang dapat mendukung.
4). Implementasi setiap keputusan
Tujuan adalah arah yang harus dicapai. Sedangkan strategi berkaitan dengan penetapan keputusan yang harus dilakukan oleh seorang perencana. Penetapan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuan, di dalamnya meliputi penetapan sarana dan prasarana yang diperlukan. Selanjutnya implementasi adalah pelaksanaan dari strategi dan penetapan dan sumber daya.
Dalam kegiatan pelaksanaan pembelajaran lebih menekankan pada bagaimana cara agar tujuan tercapai. Oleh karena itu kegiatan guru dalam tahap pelaksanaan pembelajaran ini adalah bagaimana mengorganisasikan pembelajaran, bagaimana menyampaikan isi pembelajaran, dan bagaimana menata interaksi antara sumber-sumber belajar yang ada agar dapat berfungsi secara optimal.
Dalam evaluasi selalu mengandung proses. Proses evaluasi harus tepat terhadap tipe-tipe tujuan yang dinyatakan dalam bahasa tingkah laku. Tidak semua perilaku dapat dinyatakan dengan alat evaluasi yang sama. Maka masing-masing alat evaluasi yang dilakukan guru pun harus berbeda untuk masing-masing tingkah laku. Sebagai contoh untuk menilai aktifitas siswa dalam melaksanakan proses belajarnya, sejauh mana minat dan motivasinya, tidak bisa digunakan alat  dalam bentuk tes tertulis dengan menanyakan soal-soal mengenai materi belajar yang telah dipelajari siswa. Dalam hal ini dibutuhkan alat evaluasi dalam bentuk observasi dan angket.Guru sebagai pengelola pembelajaran di samping berperan sebagai perencana, pelaksana dan melakukan kegiatan evaluasi. Juga berperan sebagai pengelola sumber belajar juga berperan sebagai sumber belajar itu sendiri.
 
2. Sistem Pengelolaan Sistem Pembelajaran IPS dan Geografi
Sistem Pengelolaan Pembelajaran terkait dengan upaya guru untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif begitu halnya dalam pembelajaran IPS dan Geografi. Kompetensi guru dalam membuat rencana, melaksanakan, dan  mengevaluasi suatu  proses pembelajaran, merupakan inti dari tugas guru dalam pengelolaan pembelajaran. Semua komponen pendidikan dan pembelajaran terutama kurikulum akan sukses, apabila guru mampu mengelolanya dengan efektif.
       Pengelolaan pembelajaran yang efektif sebagaimana disebutkan di atas, diawali dengan proses penyusunan rencana. Perencanaan pembelajaran merupakan persiapan terhadap hal-hal yang perlu atau harus dilakukan oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Unsur utama dalam perencanaan pembelajaran disusun dalam dokumen yang terdiri dari program tahunan, program semester, minggu efektif, alokasi waktu, silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran. Perencanaan diperlukan untuk mempersiapkan serangkaian keputusan dalam rangka melaksanakan proses pembelajaran yang diarahkan kepada tercapainya tujuan yang diharapkan        Berdasarkan hal di atas, maka dalam pelaksanaan pembelajaran guru harus mampu memberikan pelayanan bagi peserta didik yang bersifat pembinaan,perbaikan, pengayaan dan pengembangan potensinya. Dalam hal ini peserta didik dan guru harus saling menerima, menghargai, akrab, terbuka dan hangat, sehingga pelaksanaan pembelajaran terselenggara dalam kondisi aktif, kreatif, inovatif, menyenangkan, bermakna, seimbang, terkait dan berkesinambungan.
       Dalam hal evaluasi pembelajaran, guru harus mampu untuk melaksanakannya sesuai prosedur evaluasi yang tepat. Menurut Arikunto (2009:34-35),”obyek evaluasi pendidikan dilihat dari aspek inputnya, maka objek dari evaluasi pendidikan itu sendiri meliputi tiga aspek yaitu aspek kognitif (kemampuan), aspek psikomotor (keahlian) dan afektif (sikap).” Ketiga aspek tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu sama lain, karena untuk membentuk anak didik yang berkepribadian utuh harus didukung oleh kecerdasan intektual, memiliki sikap yang baik serta keahlian yang dapat diandalkan.
       Ketercapaian tiga aspek tersebut di atas juga merupakan target dari pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Geografi. Hal ini dapat disebabkan Ilmu pengetahuan sosial membahas hubungan antara manusia dengan lingkungan dimana anak didik tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari masyarakat. ”Pendidikan IPS berusaha membantu peserta didik dalam memecahkan permasalahan yang dihadapi sehingga akan menjadikannya semakin mengerti dan memahami lingkungan sosial masyarakatnya” (Tim dosen UT, 2009:2)
       Penjelasan di atas memberikan penegasan bahwa guru IPS khusunya Geografi harus mampu melakukan pengelolaan pembelajaran secara optimal sesuai dengan pedoman dan prosedur. Namun demikian realita di lapangan jauh dari yang diharapkan, seperti banyaknya guru yang tidak mempersiapkan perencanaan pembelajaran. Padahal dalam melaksanakan tugasnya guru bukan hanya bekerja untuk menghabiskan jam mengajar di kelas, akan tetapi juga harus menyiapkan dokumen administrasi yang berupa perencanaan, pedoman pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran.
       Berdasarkan uraian beberapa hal diatas, maka secara sederhana dapat dijabarkan tentang bagaimana implikasi kompetensi guru dalam pengelolaan sistem pembelajaran IPS dan Geografi yang hasilnya adalah sebagai berikut:
Untuk dapat melakukan sistem pengelolaan pembelajaran IPS dan Geografi yang baik dan efektif guru geografi harus memperhatikan setiap komponen  yang ada. Pada pengelolaan pembelajaran ada tiga komponen yang harus dipenuhi agar pembelajaran dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan yang meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pada proses perencanaan pembelajaran IPS dan Geografi  dilakukan guru dengan menyusun perangkat pembelajaran atau dokumen setiap awal tahun ajaran sekolah. Perangkat pembelajaran tersebut terdiri dari kelender pendidikan, program tahunan, program semester, program modul (pokok bahasan), program mingguan dan program harian, program pengayaan dan remedial, program bimbingan dan konseling, pengembangan silabus, Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.
Selanjutnya penyusunan perencanaan pembelajaran IPS dan Geografi dilakukan secara bersama-sama oleh guru bidang studi. Dalam hal ini guru IPS ataupun Geografi dapat mendownload program-program pembelajaran sekolah lain sebagai perbandingan, namun demikian guru tidak melakukan plagiat, dengan kata lain guru wajib memodifikasinya sesuai dengan kebutuhan lokal. Untuk memberikan bantuan kepada guru dalam menyusun perencanaan pembelajaran guru sebaiknya  aktif dalam kegiatan MGMP. Kemudian pada tahap pelaksanaan pembelajaran IPS dan Geografi agar pembelajaran efektif guru harus mempertimbangan alokasi waktu yag digunakan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam proses pelaksanaan guru juga diharuskan menggunakan buku relevan yang tersedia di sekolah dan buku-buku pendukung lainnya. Pelaksanaan pembelajaran IPS dan Geografi dilakukan dengan berpedoman pada RPP yang dirumuskan berdasarkan; (a) Standar kompetensi; mengacu pada standar kompetensi yang ditetapkan Kurikulum Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial secara nasional; (b) Kompetensi dasar; mengacu pada ketentuan Kurikulum Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial secara nasional; (c) Indikator; dikembangkan sesuai kemampuan siswa dengan menganalisis lingkungan dan kondisi sekolah, (d) Tujuan; dikembangkan sesuai indikator yang ditetapkan oleh Guru IPS dan Geografi pada masing-masing sekolah, (e) Materi; dikembangkan oleh Guru IPS dan Geografi sesuai konteks pembelajaran untuk mencapai Kompetensi Dasar, (f) Sumber belajar; berpedoman pada buku yang relevan ataupun buku pendukung yang tersedia. Selain menyipkan beberapa hal diatas pada tahap pelaksanaaan dalam sistem pengelolaan pendidikan guru juga harus mampu mempersiapkan dan menggunakan alat, media dan metode pembelajaran yang mendukung pembelajaran IPS dan Geografi sesuai dengan tema kajian.
Untuk evaluasi pembelajaran dilakukan dalam bentuk tes formatif dan sumatif. Materi tes disusun dalam bentuk soal essay dan pilihan berganda. Selama ini guru IPS dan Geografi masih jarang  jarang melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap soal-soal dalam bentuk tes formatif maupun sumatif. Evaluasi yang dilakukan guru IPS dan Geografi juga hendaknya tidak hanya menggunakan aspek kognitifnya saja tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik.
Dalam proses penerapan sistem pengelolaan pembelajaran tersebut tentunya guru IPS dan Geografi tentunya akan menemukan beberapa kendala dilapangan. Adapun kendala guru dalam mempersiapkan perangkat pembelajaran IPS disebabkan faktor internal guru itu sendiri; (a) kejenuhan dalam mengajar sehingga motivasi guru untuk melakukan improvisasi mutu pembelajaran dan merevisi dokumen pembelajaran setiap tahunnya hanya dilakukan dalam bentuk merubah tahun ajaran saja, (b) guru IPS kurang mendapat bimbingan dan pelatihan. Sangat jarang dilakukan pelatihan khusus bagi guru IPS untuk pengembangan kemampuan mengelola pembelajaran baik oleh kepala sekolah, pengawas maupun Dinas Pendidikan, (c) media pembelajaran IPS sangat terbatas, dimana sumber pembelajaran yang tersedia hanya dalam bentuk buku paket, peta dan globe saja. Selama ini perhatian terhadap penyediaan media lebih difokuskan pada bidang Studi IPA, (d) adanya persepsi bahwa pembelajaran IPS itu mudah dan kurang menarik, sehingga perhatian kepala sekolah, dinas pendidikan kurang terfokus.
Demikian juga motivasi belajar siswa lebih terdominasi oleh pembelajaran IPA dan bahasa asing. Kendala yang dihadapi guru dalam pelaksanaan pembelajaran IPS antara lain : (a) karakteristik siswa yang beragam menyebabkan pengendalian kelas kurang efektif, karena di saat pembelajaran berlangsung sering timbul kegaduhan yang dilakukan oleh beberapa orang siswa. Kegaduhan ini berakibat terganggunya konsentrasi guru dan siswa lainnya (b) kurang variatifnya metode pembelajaran menyebabkan kurang efektifnya penyampaian materi. Guru kurang melakukan variasi karena terbatasnya media pembelajaran yang tersedia, (c) kurang aktifnya situasi kelas disebabkan kurangnya ketertarikan siswa terhadap materi IPS. Siswa yang mengikuti pelajaran tambahan diluar jam sekolah seperti les umumnya hanya difokuskan pada bidang studi matematika, bahasa Inggris dan komputer. Kendala dalam evaluasi pembelajaran IPS adalah kurangnya pelatihan guru tentang pelaksanaan evaluasi pembelajaran sehingga guru kurang kreatif dalam menyusun bentuk tes dan metode tes.
       Dengan demikian, perlu adanya langkah konkret guru IPS khususnya guru Geografi dalam mengimplementasi pengelolaan pembelajaran IPS bidang studi Geografi. Sistem pengelolaan pembelajaran tersebut merupakan rangkaian secara terus menerus dan merupakan suatu siklus untuk dilaksanakan, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi dalam suatu proses pembelajaran. Diharapkan dengan adanya keseimbangan dalam melaksanakan pengelolaan pembelajaran IPS Geografi secara sinergis mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif. Harapan utama / tujuan  utama pembelajaran Geografi dalam  memberikan bekal spatial ability atau spatial inteligence pada peserta didik dapat tercapai sesuai dengan substansi ilmu Geografi itu sendiri.
 
C. KESIMPULAN
              Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
  1. Sistem Pengelolaan Pembelajaran IPS dan Geografi berkaitan erat dengan upaya guru untuk menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif
  2. Dalam sistem pengelolaan pembelajaran IPS dan Geografi yang baik dan efektif guru geografi harus memperhatikan setiap komponen  yang ada, meliputi tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi suatu proses pembelajaran
  3. Dalam pelaksanaan sistem pengelolaan pembelajaran terdapat kendala dalam pelaksanaannya. Hal ini disebabkan oleh faktor intern guru tersebut
  4. Perlu adanya langkah konkret dalam pengelolaan sistem pembelajaran IPS Geografi, karena sistem tersebut merupakan satu kesatuan / siklus yang harus dilakukan guru sebagai upaya menciptakan konsisi pembelajaran yang efektif.

DAFTAR PUSTAKA
 
Ardiansyah, Asrori. (2011). Pendekatan Sistem Dalam Pembelajaran. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari  http://www.majalahpendidikan.com/2011/03/pendekatan-sistem-dalam-pembelajaran.html
Davies, Ivor. K. ( 1986 ). Pengelolaan Belajar. Jakarta Rajawali Press
Grawol. (2010). Pendekatan Sistem pembelajaran. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://growol.blogspot.com/2010/11/pendekatan-sistem-pembelajaran.html
Hadi. Partoso. ( 2009 ). Keterampilan Spasial Dalam Pembelajaran Geografi. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://partosohadi.staff.fkip.uns.ac.id/2009/05/25/47/
Haryadi. (2012). Indikator dan Tujuan Pembelajaran. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari  http://haryadi-black.blogspot.com/2012/03/indikator-dan-tujuan-pembelajaran.html\
Manulang, Nursari. 2011. Pengertian dan Tujuan Pembelajaran. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://belajarpsikologi.com/pengertian-dan-tujuan-pembelajaran/
Mulyasa, E. (2006) .Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdakarya
Nurhayati, Muniati Ar, Khairudin. ( 2012 ). Kompetensi Profesional Guru Dalam Pengelolaan Pembelajaran Bidang Studi IPS Pada SMP Kecamatan Jaya Baru Kota Banda Aceh ( versi Elektronik ). Jurnal Pendidikan pascasarjana Universitas Syiah Kuala Tahun 2012,1( 1),  hlm 1-28. Diperoleh 19 Mei 201, dari http://prodipps.unsyiah.ac.id/Jurnalmap/index.php/jurnal/10-kompetensi-profesional-guru-dalam-pengelolaan-pembelajaran-bidangstudi-ips-pada-smp-kecamatan-jaya-baru-kota-banda-aceh
Putra, Aldi. (2011). Pengertian Sistem Menurut Para Ahli. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://aldyputra.net/2011/08/pengertian-sistem-menurut-para-ahli/
Rivai. ( 2012 ).Pengertian Pembelajaran Menurut Para Ahli. Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://www.sarjanaku.com/2012/11/pengertian-pembelajaran-menurut-para.html
Suharsimi, Arikunto. ( 1987 ). Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta : Rajawali
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik Dan Kompetensi Guru.             (2007). Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://akhmadsudrajat.files.wordpress.com/2009/04/lampiran-permen-no-16-kualifikasi-akademik-dan-kompetensi-guru1.pdf
Undang – Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional           ( 2003 ). Diperoleh pada 19 Mei 2013, dari http://www.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2012/10/UU20-2003-Sisdiknas.pdf
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s