Meraih Harapan di Ujung Timur Batas Negeri

“Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia, Indonesia Tanah Airku, aku berjanji padamu, menjunjung tanah airku, tanah airku Indonesia”.

Kita sebagai warga negara Indonesia pasti pernah mendengarkan dan menyanyikan lirik lagu wajib “Dari Sabang Sampai Merauke “. Mulai sejak mengenyam bangku di sekolah dasar hingga saat ini, kita sudah diperkenalkan “Merauke “  oleh Bapak Ibu guru melalui lirik lagu tersebut.  Melalui  program SM-3T dari Kemenristekdikti dengan Slogan “Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia”, pada tahun 2015 mengantarkanku menjadi salah satu bagian dari pejuang pendidikan di negeri ini,  tepatnya di Kabupaten Merauke. Kabupaten Merauke terletak di Provinsi Papua, berada paling ujung timur Indonesia dengan memiliki khas tugu Sabang-Merauke.

Selama satu tahun, aku mendapatkan amanah untuk mengabdi di perbatasan,tepatnya di Kampung Bupul Distrik Elikobel, Merauke. Kampung Bupul berjarak 200 km dari pusat kota Merauke. Perjalanan menuju Bupul dapat ditempuh menggunakan transportasi darat berupa “mobil ranger“, truk, dan motor dengan kondisi jalan berupa tanah bebatuan belum tersentuh aspal, kiri kanan berupa hutan yang melewati kawasan Taman Nasional Wasur. Tidak heran apabila hendak pergi ke Bupul dari pusat kota ketika naik “mobil ranger “ terasa tidak nyaman di dalam mobil seakan-akan badan digoncang-goncang akibat kondisi jalan yang  rusak. Apabila musim hujan tiba  jalan  lebih rusak parah karena tanahnya labil, sangat becek membentuk lubang yang  dalam, sehingga mobil dan kendaraan sulit untuk menembus jalan Transpapua. Tidak heran juga apabila musim hujan tiba, stok logistik berupa kebutuhan bahan makanan pokok dari kota menuju distrik bisa terhambat berhari-hari akibat kondisi jalan yang rusak parah.

Masyarakat Bupul sebagian merupakan penduduk asli suku marine Merauke dan sebagiannya lagi merupakan penduduk pendatang keturunan Jawa yang merantau sejak tahun 1990. Mereka masih membawa budaya dan adat istiadat yang khas. Meskipun berbeda budaya berbeda adat istiadat,  penduduknya dapat hidup rukun, berdampingan, dan saling menghormati satu sama lain.

Ekonomi Sosial Budaya Masyarakat Bupul

Kondisi tanah di Bupul yang subur mendorong masyarakat memanfaatkan tanah adat digunakan untuk berkebun. Bagi masyarakat Bupul memiliki prinsip “ lebih baik menanam daripada harus beli dikota”. Daripada mengeluarkan uang untuk beli sayuran lebih baik menanam sendiri. Itu menandakan bahwa kesederhanaan masyarakat dalam bercocok tanam sangat tinggi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akupun tidak kalah diam dengan semangat masyarakat Bupul. Kebun yang berada di belakang rumah tempatku tinggal,  aku tanami sayuran kangkung, bayam, terong, kacang panjang. Hasilnya memuaskan untuk dipanen.

Dilihat dari segi sosial, masyarakat Bupul memiliki kerukunan yang erat antara masyarakat suku asli marine maupun masyarakat keturunan pendatang. Begitupun dengan kerukunan antarumat beragama, antar pemeluk agama saling menghormati, terlebih ketika melakukan aktifitas ibadah. Ketika hari minggu tiba masyarakat Nasrani hendak ke gereja, aktivitas ibadah mereka juga tidak mengganggu umat agama  lain meskipun jarak antara gereja dengan mushola berdekatan, begitupun sebaliknya ketika masyarakat pemeluk agama Islam melakukan sholat di mushola mereka juga saling menghormati. Cerminan kerukunan inilah yang patut dicontoh dan ditiru oleh kita sebagai warga negara Indonesia.

Bagi masyarakat Bupul budaya tasyakuran ketika anak lahir, tasyakuran ketika panen tiba, upacara adat marine ketika ada warga yang meninggal masih berlaku untuk dilakukan. Arttinya masyarakat juga masih menjunjung budaya setempat meskipun antara suku asli marine dengan suku pendatang berbeda budaya.

Hidup dan tinggal di Bupul selama satu tahun memberikan pengalaman dan tantangan berharga. Listrik PLN hanya mampu menyala  selama 2-3 jam dalam sehari, karena di Bupul listrik belum sepenuhnya menyala 24 jam seperti di Jawa, untuk mengisi baterai laptop dan handphone juga perlu waktu yang tepat ketika listrik menyala, ketika malam hari tiba hanya “lampu templok” lah yang mampu menerangi  cahaya gelapnya malam, ketika musim kering  ( bulan agustus-Januari 2015 ) akupun harus mencari air di kubangan dekat  tanaman sagu karena waktu itu Bupul dilanda musim kering. Tak ada satupun air yang keluar dari sumur. Untuk masalah kualitas air kubangan tanaman sagu yang berwarna coklat kehitaman aku gunakan untuk mandi, mencuci bahkan untuk minum. Kalau airnya mau jernih perlu diendapkan di ember  selama 2-3 hari terlebih dahulu. Ketika akan memasak, di Bupul tidak ada kompor gas, yang ada hanyalah memasak menggunakan tungku dan kayu bakar dan kompor minyak. Di Bupul jarang ditemukan toko kelontong. Harga barang kebutuhan sehari di Bupul bisa dibilang harganya 2-3 kali lipat dibandingkan harga jawa. Barang / produk yang dijual di Bupul tidak selengkap barang yang ada di kota. Sehingga pernah suatu ketika aku membeli suatu barang harus pesan dulu dari kota dengan menitipkan barang melalui sopir mobil ranger yang lewat di Bupul.

Pendidikan Bupul

Selama satu tahun aku diberikan amanah untuk  mengampu di SMK Negeri 1 Elikobel, salah satu sekolah bidang kejuruan pertanian dan peternakan yang terletak di Kampung Bupul, Distrik Elikobel Kabupaten Merauke. Sekolah ini terletak di jalan Nasional TransPapua Km 199, berbatasan dengan Negara Papua New Guinea (Papua Nugini). Sekolah ini memiliki keunikan dibandingkan sekolah- sekolah yang lain yang ada di Merauke, yaitu Pemerintah Daerah Merauke memberikan wewenang kepada SMK N 1 Elikobel dalam menerima anak-anak negara PNG ( PapuaNugini ) agar bisa bersekolah disana. Hal ini disebabkan karena letak sekolah yang berbatas langsung dengan PNG dan pos masuk keluar perbatasan Indonesia-PNG.  Selama mengampu mata pelajaran IPS di SMK Negeri 1 Elikobel, banyak sekali pengalaman berharga yag tidak bisa aku lupakan. Dengan jumlah total siswa  sekitar 150.an, mulai dari kelas X-XII Agribisnis Ternak dan Ruminansia, maupun kelas Agribisnis Pertanian, alhasil setiap hari yang datang separo siswa secara keseluruhan. Banyak siswa yang tidak pernah berangkat ke sekolah karena banyak faktor, mulai dari kesadaran siswa untuk bersekolah masih rendah, jarak sekolah dengan rumah yang jauh maupun faktor membantu orangtua berkebun. Mereka berangkat ke sekolah hanya ketika Ujian Semesteran tiba. Mengampu di sekolah perbatasan perlu kesabaran dalam membelajarkan siswa,  terlebih bagi siswa yang belum bisa membaca maupun menulis dengan lancar, perlu pendampingan khusus. Pendekatan kepada siswa perlu aku lakukan untuk memahami kepribadian karakter mereka agar nantinya mereka juga mengenal karakter berbudi luhur yang harus dijunjung.oleh manusia Indonesia salah satunya penguatan materi karakter waktu apel pagi. Kondisi pembelajaran maupun sarana pendidikan  di SMK N 1 Elikobel masih bisa dikatakan jauh dari kata “ideal”. Ketika awal mengajar, aku membekali mereka mengenali lingkungan sekitar mereka, dimana mereka tinggal, salah satunya membekali mereka bidang ilmu Geografi untuk mengenali wilayah mereka dengan menggambar peta tempat tinggal mereka “Merauke”. Dengan mengenali wilayah, mereka akan menyadari meskipun mereka tinggal paling ujung ujung timur Indonesia di daerah Terdepan, terluar, dan tertinggal, jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, jauh dari fasilitas yang memadai, jauh dari sarana pendidikan tetapi semangat dan harapan mereka untuk meraih kesuksesan, meraih mimpi, meraih cita-cita  tak akan pernah terhenti.  Aku yakin mereka memiliki  harapan besar  untuk menjadi orang terbaik, menjadi orang sukses bermanfaat bagi dirinya, orangtua, masyarakat maupun bagi bangsa dan negara Indonesia.

 

 

 

 

 

Iklan

PERANGKAT PEMBELAJARAN IPS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KTSP SMK KELAS XI

Perangkat pembelajaran IPS untuk  kelas XI SMK Negeri 1 Elikobel Merauke Tahun pelajaran 2015-2016 , silahkan klik link berikut, jangan lupa cantumkan sumbernya dari blog ini dari bhianrangga.wordpress.com, sertakan daftar pustaka yang relevan

PERANGKAT PEMBELAJARAN KTSP  IPS KELAS XI SEMESTER 1 SMK :

COVER PERANGKAT PEMBELAJARAN SEMESTER 1

COVER PROMES SEMESTER 1

COVER PROTA

MATERI DAN RPP SEMESTER 1

PROGRAM SEMESTER 1

PROGRAM TAHUNAN

SILABUS PEMBELAJARAN SEMESTER 1

 

PERANGKAT PEMBELAJARAN KTSP  IPS KELAS XI SEMESTER 2 SMK :

PROGRAM SEMESTER 2

SILABUS PEMBELAJARAN SEMESTER 2

MATERI DAN RPP SEMESTER 2

 

ULANGAN SEMESTER  IPS KELAS X SMK :

ULANGAN AKHIR SEMESTER 1

KISI – KISI ULANGAN AKHIR SEMESTER 1

ULANGAN AKHIR SEMESTER 2

KISI-KISI ULANGAN SEMESTER 2

PERANGKAT PEMBELAJARAN IPS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL KTSP SMK KELAS X

Perangkat pembelajaran IPS untuk  kelas X SMK Negeri 1 Elikobel Merauke Tahun pelajaran 2015-2016 , silahkan klik link berikut, jangan lupa cantumkan sumbernya dari blog ini dari bhianrangga.wordpress.com, sertakan daftar pustaka yang relevan

PERANGKAT PEMBELAJARAN KTSP  IPS KELAS X SEMESTER 1 SMK :

COVER PERANGKAT PEMBELAJARAN SEMESTER 1

COVER PROMES SEMESTER 1

COVER PROTA SEMESTER 1

COVER RPP SEMESTER 1

MATERI DAN RPP SEMESTER 1

PROGRAM SEMESTER 1

PROGRAM TAHUNAN

SILABUS PEMBELAJARAN SEMESTER 1

 

PERANGKAT PEMBELAJARAN KTSP  IPS KELAS X SEMESTER 2 SMK :

PROGRAM SEMESTER 2

SILABUS PEMBELAJARAN SEMESTER 2

MATERI DAN RPP SEMESTER 2

 

ULANGAN SEMESTER  IPS KELAS X SMK :

ULANGAN AKHIR SEMESTER 1

KISI-KISI ULANGAN AKHIR SEMESTER 1

ULANGAN AKHIR SEMESTER 2

KISI – KISI ULANGAN AKHIR SEMESTER 2