Materi dan Cerita Islam

 

No  Download
1  Tafsir Surat Al Fatihah
2  semangat
3  rahasia_kekebalan_tubuh
4  rahasia_dna
5  rahasia
6  menyingkap_tabir_fasisme
7  menyibak_tabir_evolusi
8  menjelajah_dunia_semut
9  menyanggah_darwinisme
10  menjelajah_dunia_laba_laba
11  menjawabtuntaspolemikevolusi
12  MEMAHAMIALLAHMELALUIAKAL
13  melihat_kebaikan
14  marikitabelajartentangislam
15  lebahmadupembuat
16  manusia_dan_alam_semesta2
17  Kesempurnaan_Seni_Warna_Ilahi
18  kesempurnaan_penciptaan_atom
19  KeruntuhanTeoriEvolusi
20  kekeliruan_teori_evolusi
21  Kejujuran
22  keindahandalamkehidupan
23  keikhlasan
24  keajaiban_flora_dan_fauna
25  JihadMenentangAgamaBatil
26  jejak_bangsa_bangsa_terdahulu
27  Cara_Cepat_Meraih_Keimanan
28  bencana darwin
29  berpikirlah
30  ancaman_global_freemasonry
31
32
33
34
35
Iklan

Berproses Menjadi Seorang Ustad /Ustadah Taman Pendidikan Al Qur’an

Berproses Menjadi Seorang Ustad /Ustadah

Taman Pendidikan Al Qur’an

Oleh : Bhian Rangga JR

I.         Pendahuluan

         Dalam dunia pendidikan, peranan  pengajar dalam membimbing serta mengarahkan anak didiknya sangatlah diperlukan. Seperti halnya kelembagaan formal, peran dunia TPA di masyarakat memiliki kedudukan yang layak untuk dikembangkan. Dunia TPA merupakan dunia bagi seorang santri. TPA merupakan lembaga informal dibawah nauangan takmir masjid ataupun yayasan. Adapun salah satu tujuan diselenggarakannya TPA antara lain membentuk karakter santri dan memberikan bekal kepada santri kedepannya untuk bisa terjun langsung ke dunia masyarakat sesuai tuntunan al qur’an maupun al hadist.

Beberapa kasus sekarang, banyak sekali TPA – TPA yang memberikan sajian pembelajaran yang menyenangkan dan efektif bagi santrinya. Namun, ada juga TPA yang memberikan sajian pembelajaran yang monoton saja. Kondisi semacam itu bergantung pada tiga aspek, yaitu santri, walisantri, serta pengajar ( ustad – ustadah ). Ketiga komponen tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak bisadipisahkan dalam membangun sebuah kekondusifan dunia TPA. Peranan seorang ustad maupun ustadah dalam dunia TPA sangatlah penting. Tanpa kehadiran mereka, tanpa partisipasi mereka, dunia TPA tidak akan berjalan sesuai apa yang diharapkan bersama. Bekal mendapatkan predikat “ustad / usatad’ah ) tentu sangatlah mudah di mata masyarakat. Namun, dihadapan Allah SWT, predikat tersebut sangatlah sulit, kecuali bagi mereka yang mau dan bersungguh – sungguh untuk menekuninya.

Pada pembahasan ini, penulis mencoba untuk memberikan uraian mengenai berproses menjadi ustad maupun ustadah TPA.

II.      Pembahasan

          Seorang santri pasti merindukan sesosok ustad maupun ustadah yang dinantikannya.Oleh karena itu, wajib bagi ustad maupun ustadah untuk memberikan ilmu yang bermanfaat bagi santrinya. Suri tauladan, tingkah laku sang ustad maupun ustadah akan mencerminkan perilakunya dalam kehidupan sehari – hari.  Jika sang ustad / ah memiliki karakter yang sopan , bershaja, pasti si santri juga akan menirunya, meskipun semua itu perlu proses. Karakter seorang ustad / ah haruslah bercermin pada sikap rasulullah muhammad saw. Sifat shidiq, amanah, fatonah, dan tabligh haruslah dimiliki seorang ustad maupun ustadah di TPA tersebut. Sehingga diharapkan, dengan karakter yang meniru tauladan rasulullah saw, dan berpedoman pada alqu’an dan as sunah dapatlah menjadi bekal bagi dirinya untuk menyebarkan dakwah dalam lingkup TPA.

Dalam firman Allah SWT : “Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…” (QS Al Baqarah: 197). Maksud dari ayat tersebut bahwa bekal utama manusia dalam mengisi kesehariannya, baik di sekolah, di rumah, di kantor, di manapun mereka berada adalah dengan bekal takwa. Tentu saja predikat untuk mencapai taqwa hanyalah Allah swt yang tahu akan predikat tersebut.

Untuk memperoleh bekal taqwa, diperlukan sebuah action. Berkata mudah untuk diucapkan, namun tindakan / perbuatan perlu dilakukan. Salah satu bukti bahwa kita harus memiliki bekal taqwa untuk kehidupan di dunia dan diakhirat adalah menyebarkan misi dakwah. Misi dakwah dapat dilakukan salah satunya dengan mengajar TPA. Mengajar TPA bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Hanya orang – orang yang bertakwalah dan bersungguh sungguh maka dia insyaallah akan terketuk hatinya untuk mengajar di TPA.

Sebuah TPA perlu adanya sesosok ustad maupun ustadah yang berkarakterTPA yang memiliki pengajar yang bermutu ternyata memiliki prestasi yang bagus, walaupun sarananya tidak memadai. Maka menjadi ustad maupun ustadah  harus menjadi seorang yang profesional, bermutu dan hebat. Utamakan mengajar dengan cara yang terbaik.  Beberapa cara yang perlu ditempuk akan menjadi ustad maupun ustadah yang profesional adalah haruslah memalui tahap berproses. Berproses disini dalam arti mampu memposisikan dirinya untuk dirinya sendiri maupun orang lain. Bekal utamanya adalah memiliki benteng iman dan taqwa. Lantas bagaimana untuk mengokohkan keimanan dan ketaqwaan tersebut?

Salah satunya dengan tholabul ilmi bersama. Seorang ustad / ah tidak akan bisa mengajarkan atau mungkin tidak akan bisa berdiri di depan santri mereka apabila dia tidak memiliki ilmu. Oleh karena itu, langkah –langkah dalam berproses menjadi ustad / ah adalah :

1.      Memiliki kesungguhan yang kuat

Kesungguh – sungguhan di sini maksudnya adalah apabila mereka memiliki komitmen yang kuat dalam mengajar TPA, apapun bentuknya mereka haruslah mengorbankan segala apa yang dimiliki, baik tenaga, waktu, pikiran, dan lain sebagainya. Sehingga perlu diperlukan manajemen dalam membagi waktu antara urusan pribadi maupun urusan lainnya.

2.      Terus mengasah ilmu

Mengasah ilmu wajib hukumnya bagu ustad maupun ustadah. Tanpa bekal ilmu, maka dia tidak akan bisa mengembangkan apa yang akan diajarkan kepada santri – santrinya. Berbagai macam sumber ilmu/ referensi tersedia, baik buku, searching internet, kajian islam, media radio, televisi dan lain sebagainya

3.      Perlu adanya tindakan konkret

Tindakan konkret sangatlah penting dilakukan. Apabila ustad maupun ustadah memiliki komitmen yang kuat dalam mengajar, maka merekah.haruslah mengamalkan ilmu yang ia peroleh kepada santrinya. Seorang ustad maupu ustadah haruslah memiliki wawasan yang luas, memiliki ide kreatif dan inovatif.

Dengan demikian, dengan adanya proses yang matang bagi sang ustad maupun ustadah diharapkan mampu menjadi bekal dia dalam mengajarkan ke santri didiknya dalam dunia TPA serta memperoleh predikat taqwa dihadapan Allah swt.

III.   Penutup

            Berdasarkan pembahasan tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Seorang ustad maupun ustadah TPA haruslah memiliki karakter baik yang dapat dicontoh oleh santrinya. Karakter ustad maupun ustadah haruslah bercermin dari suri tauladan rasulullah saw yang bersumber pada alqur’an dan as sunah.

2.  Langkah –langkah dalam berproses menjadi ustad / ah adalah memiliki kesungguhan yang kuat,terus mengasah ilmu, perlu adanya tindakan konkret

IV.   Daftar Pustaka

Fadhlijauhari..2010. Berproses dengan berbekal tentu lebih langgeng. http://fadhlijauhari.wordpress.com/2010/07/16/berproses-dengan-berbekal-tentu-lebih-langgeng/, diakses 04 Mei 2012

Fatan, F. 2009. Menjadi Ustadz-ustadzah hebat. http://badkomergangsan.wordpress.com/2009/07/27/menjadi-ustadz-ustadzah-hebat/, diakses 04 Mei 2012

Aplikasi Syukur Dalam Hidup

Aplikasi Syukur Dalam Hidup

Oleh : Bhian Rangga

Manusia dalam menapaki liku kehidupan pasti ada suka maupun duka. Saat suka manusia selalu mengucapkan syukur kepada TuhanNya Allah Swt. Manusia menyadari bahwa kesuksesan maupun keberhasilan yang diperoleh berkat kerja kerasnya. Usaha tanpa kerja keras tidak akan berhasil begitupun sebaliknya. Namun perlu disadari bahwa usaha dan kerja keras tanpa dilandasi rasa keikhlasan kepada Allah Swt juga tidak akan berhasil. Oleh karena itu jika manusia memiliki akhlakul karimah maka ia selalu mengucapkan syukur. Syukur bukan hanya secara lisan saja, namun juga dalam perbuatan.

Dalam kehidupan sehari – hari banyak alim ulama yang mengedepankan akan pentingnya syukur. Namun sangat disesalkan jika ada manusia yang memiliki anggapan bahwa syukur hanya diucapkan ketika mendapatkan kebahagiaan saja. Hal tersebut merupakan anggapan yang salah dan keliru.

Sebagai manusia yang memiliki rasa syukur yang tinggi, disaat ia suka dan duka selalu mengucapkan syukur kepada Allah. Ketika duka misalnya terkena musibah yang tidak diinginkan, ia selalu bersyukur kepada Allah. Ia menyadari bahwasanya Allah Maha Kehendak dan Allah Maha SegalaNya. Ia beranggapan bahwa semua yang telah diberikan kepada hambaNya, Allah pasti memberikan jalan yang terbaik untuk hambaNya.

Oleh karena itu syukur bukan hanya sekedar diucapkan ketika suka saja, namun juga diterapkan ketika mendapatkan duka/ musibah. Hal yang perlu digarisbawahi adalah syukur suka maupun duka harus dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah Swt.